(0 pemilihan)

Siswa Nakal: Bagaimana Tips Mengatasinya? Pilihan

oleh

Rofi'i, S.Pd., M.Pd.

(Kepala SMP Negeri 1 Mayong)

“Aduuhh, si Corona dan si Coronda bikin emosi tingkat tinggi! Tugas nggak dikerjakan, kalau diajar ngrumpi, gak care sama guru… dan hari ini mbolos!” gerutu Bu Siska kepada teman sekantornya setelah mengajar dari kelas VIIC.

“Iya Bun…. Kemarin aku mengajar di kelas VIID juga begitu,” timpa Bu Lina.

Pak Tukijo gak mau kalah, “Hampir saja aku gampar Hendik siswa kelas VIIG. Gimana tidak, aku dikata-katain tak senonoh. Kalau saja gak kena HAM pasti….” Kalimat Pak Tukijo tak selesai, tetapi terasa betapa beratnya amarah yang ditanggungnya.

“Ini gara-gara zonasi! Siswa kita sudah bodoh-bodoh, nakal-nakal lagi,” lanjut Pak Tukijo.

Ilustrasi di atas merupakan sebagian cermin fenomena pendidikan di SMP saat ini. Banyak keluhan guru terhadap permasalahan yang timbul akhir-akhir ini. Bisa karena input siswa yang buruk, karakter siswa yang memprihatinkan atau masalah lingkungan keluarga yang cenderung tidak kondusif.

Siswa SMP adalah individu yang berada pada fase masa remaja. Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Pada masa ini sering terjadi pergolakan batin dan emosional sehingga tak heran jika banyak remaja yang mencoba mengeksplorasi berbagai hal baru yang menantang. Emosi pada remaja yang masih labil dan sering kali dipengaruhi mood, membuat mereka rentan mengalami depresi. Pada saat-saat seperti ini, peran guru di sekolah dinilai sangat penting. Guru bisa membimbing mereka agar tidak terjerumus ke hal-hal negatif yang dapat merugikan dirinya sendiri atau orang lain.

Pada dasarnya setiap remaja mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Sifat remaja yang cenderung labil dan keras kepala sering membuat guru kesulitan menghadapinya.

Berikut ini tips menghadapi siswa nakal atau keras kepala.

1. Memberikan Nasihat Secara Tegas dengan Nada yang Tenang

Menghadapi anak remaja nakal atau keras kepala bukanlah hal yang mudah. Ketika remaja melakukan kesalahan, berikan nasihat dengan nada yang tenang. Saat berbicara, lihatlah situasi sekitar. Sebaiknya, tidak memberikan nasihat saat ia terlihat sedang lelah atau emosi. Ketika suasana tenang dan suasana mood-nya sedang baik, itulah saatnya memberikan nasihat. Pastikan menyampaikan nasihat dengan nada yang tenang tanpa membentak.

2. Hindari Kekerasan

Ketika anak remaja melakukan kesalahan, hindari melakukan kekerasan fisik maupun kekerasan emosional. Mendidik anak remaja yang keras kepala dengan kekerasan akan memperumit masalah. Contoh dari kekerasan fisik misalnya memukul, menendang, atau melakukan hal yang dapat melukai seseorang. Sementara kekerasan emosional biasanya dilakukan secara verbal seperti menghina, meremehkan, atau mempermalukan orang lain di depan umum. Kekerasan yang dilakukan akan membuat remaja dengan watak keras kepala menjadi memiliki trauma bahkan perasaan dendam. Perasaan dendam akan membuat jiwa remaja semakin sulit ditaklukan.

3. Berikan Perhatian Kecil yang Bisa Membuatnya Nyaman

Sedikit perhatian mungkin akan meluluhkan hatinya yang sekeras batu. Cobalah mulai melakukan hal-hal yang membuatnya merasa spesial. Misalnya dengan membuatkan bekal atau sekedar menanyakan keadaan saat sedang berjauhan dalam waktu tertentu.

4. Tanyakan Apa yang Mereka Butuhkan

Sifat keras kepala dapat timbul karena sesuatu yang tidak sesuai ekspektasinya. Ada rasa kecewa yang mendalam sehingga sulit menerima nasihat dari orang sekitar. Mulailah menanyakan hal-hal yang mereka butuhkan. Jika hal yang dibutuhkan adalah sesuatu yang positif, tak ada salahnya untuk merealisasikannya.

5. Lakukan Pendekatan dari Hati ke Hati dengan Berdiskusi

Sifat keras kepala dapat timbul karena kurangnya pengetahuan sehingga terlalu teguh pada pendirian. Cobalah melakukan pendekatan secara emosional dengan berdiskusi berbagai hal mengenai kehidupan atau pengetahuan. Wawasan yang luas akan menumbuhkan sifat terbuka sehingga lebih mudah menerima masukan dari orang lain.

6. Ceritakan Berbagai Pengalaman Hidup yang Dapat Membuka Pikiran

Perjuangan dan pengalaman hidup berharga yang pernah dilalui guru bisa jadi salah satu faktor luluhnya hati anak remaja yang sedang mencari jati diri. Jadikan momen ini sekedar ajang sharing. Sebaiknya untuk tidak membandingkan apa yang dilakukan guru dengan apa yang dilakukan anak remaja saat ini. Terlalu membandingkan dan membanggakan apa yang telah dilakukan akan meningkatkan perasaan insecure pada remaja.

7. Berikan Penjelasan Mengenai Risiko yang Kemungkinan Terjadi

Ketika anak remaja ingin melakukan hal yang menyimpang, tentunya kewajiban guru adalah mencegahnya. Jelaskan berbagai risiko yang kemungkinan terjadi terhadap sesuatu yang akan mereka lakukan. Dengan mengetahui risiko yang kemungkinan terjadi, memungkinkan para remaja untuk lebih berpikir lebih jernih.

8. Hindari Sifat Otoriter yang Bisa Membuat Perasaan Tak Nyaman

Menurut Dr. Mai Stafford dari University College London, pola asuh otoriter menyebabkan guru berkuasa dan lebih dominan terhadap kehidupan anak remaja. Hal ini menimbulkan perasaan tidak dihargai karena tak pernah dilibatkan untuk berdiskusi bahkan untuk menentukan jalannya sendiri. Hal itu dapat menumbuhkan sifat keras kepala terhadap apa yang mereka inginkan.

9. Persembahkan Hadiah Sebagai Salah Satu Bentuk Support

Support tak hanya dapat ditunjukan lewat ucapan atau penyemangat saja. Berikan mereka hadiah sebagai salah satu cara untuk menunjukan rasa sayang guru terhadap anak. Tak perlu hadiah mahal menguras kantong. Dengan hadiah kecil pun, itu akan menunjukan kepedulian dan rasa empati. Bukan hal mustahil jika mereka akan membalas rasa empati yang diberikan dengan keterbukaan terhadap masukan dan nasihat yang diterima.

10. Luangkanlah Waktu

Komunikasi dengan anak dapat kita jaga dengan memberikan waktu khusus dan rutin. Waktu yang kita gunakan untuk berbicara dan menghabiskan waktu bersama. Anak yang melawan kita, akan membuat kita bingung menghadapi anak keras kepala. Kita harus tahu dengan siapa dia berteman, sedang sibuk mengerjakan apakah dia, apa saja masalah yang ia hadapi sekarang ini. Itulah saat kita mendengarkan apa sebenarnya yang siswa inginkan.

11. Berlemah Lembutlah

Apabila anak mengiginkan sesuatu dan kita sebagai guru tahu kalua keinginan anak itu buruk atau belum saatnya. Sampaikanlah dengan tidak menggurui atau menceramahi. Berikan pengertian dengan cara yang lemah lembut pada anak. Pilihan yang ia pilih bisa jadi merupakan hal yang tidak baik untuk dirinya. Berkata lembut, akan mempermudah menghadapi anak keras kepala.

12. Jangan Memarahi Anak di Tempat Umum

Jangan mempermalukannya dengan marah di hadapan orang banyak. Maafkanlah.  Coba tanyakan kepadanya mengapa ia membuat kesalahan. Ajaklah berbicara berdua dengan lemah lembut di tempat sepi atau menunggu bila sampai di rumah. Anak berbuat kesalahan bukanlah karena keinginannya sendiri. Mungkin terkadang terjadi karena ketidaksengajaan atau ketidaktahuannya.

13. Buang Pola Asuh Memanjakan

Memanjakan anak sesekali boleh, tetapi jangan menjadi habit. Ia akan terbiasa mendapatkan segala hal tanpa mengetahui kesulitan orang lain. Perlakukan anak dengan baik dan sewajarnya saja. Menghadapi anak keras kepala dengan cara memanjakannya itu hal yang sangat tidak disarankan.

14. Pilih Bahasa yang Sederhana dan Positif

Memberi nasihat atau perintah dengan bertele-tele atau disertai emosi, akan membuat anak malah tidak memahami maksud sebenarnya dari orang tua. Anak menjadi bingung. Berikan perintah sederhana saja.

Misalnya,  “Nak, tolong  rapikan mejamu, ya!”.

Akan lebih baik dari pada, “Gimana sih, kotor semua deh. Ibu sudah capek seharian ngajar. Ibu nggak mau tau ya, besok kelas harus rapi sendiri!”

Kalimat yang kedua terlalu Panjang. Intinya kurang jelas. Mungkin anak tidak tahu makna sindiran kita. Silahkan pada kalimat intinya saja dari pada kita tambah jengkel sendiri karena anak kita kurang paham.

15. Konsisten di Hadapan Anak

Berikan pengertian yang tepat sehingga anak bisa memahami tentang larangan yang diberikan dan apa konsekuensinya. Butuh kesabaran dan jiwa yang kokoh untuk menunjukkan kalau kita itu guru yang konsisten menghadapi anak yang keras kepala.

16. Pilih Waktu Tepat

Apabila anak tidak mau mengikuti perintah, jangan terlalu memaksanya. Terlebih jika tengah berada di tempat umum.  Pilihlah waktu yang tepat untuk memberitahu anak bahwa yang ia lakukan adalah hal yang salah. Ajari anak untuk mengungkapkan apa yang ia inginkan dengan cara yang terpuji. Hindari untuk bersuara keras pada saat menyuruh atau melarang anak ketika melakukan sesuatu. Terutama di hadapan umum.

17. Hindari Memberikan Label Buruk

Ucapan guru bisa menjadi doa. Jangan sampai kita memberi label buruk kepada siswa. Misalnya si pemalas, si berisik, si bandel, si nakal. Sebutan yang kita ucapkan terus menerus dan didengar anak akan malah membuat anak yakin dengan label tersebut. Siswa akan menganggap itulah sifatnya dan tidak perlu diubah. Padahal itu sifat yang buruk. Hal tersebut pada akhirnya hanya akan mempersulit kita sebagai orang tua. Kita akan kesulitan dalam mengembalikan anak menjadi lebih baik.

18. Menghadapi Anak Keras Kepala dengan Mempertebal Religiusitas Anak

Pondasi ahlak yang paling utama dalam kehidupan adalah agama. Itulah sebabnya ilmu agama sangat penting untuk diberikan kepada siswa sejak dini agar pendidikan ahlaknya bagus. Keluarga merupakan media anak yang pertama dalam mengenal agama dari contoh-contoh yang dilakukan orangtuanya.

Cara menghadapi anak keras kepala dan mendidik anak keras kepala agar menjadi anak baik tidak semudah membalikkan telapak tangan. Semuanya harus dilakukan dengan usaha, kerja keras, dan perjuangan. Mulailah dari mengubah perilaku guru yang mungkin dijadikan model contoh anak sehingga menjadi keras kepala. Kemudian sama-sama lakukan perubahan dengan pendekatan yang dilakukan terus-menerus.

Introspeksilah sebelum memvonis siswa sebagai anak nakal dan keras kepala.

Sumber

https://psyline.id/menghadapi-anak-keras-kepala/

https://www.jakmall.com/blog/cara-menghadapi-anak-remaja-yang-keras-kepala-dan-pemarah/

Baca 2615 kali Terakhir diubah pada Selasa, 17 Mei 2022 03:07
Spensama

BE BETTER

Selengkapnya di dalam kategori ini: Cara Mudah Membimbing Anak Belajar Pianika »